Rabu, 30 November 2016

about seventeens

Cuaca hari ini sangat mendukung kegiatan Fian untuk menjelajah hobinya. Saat ini ia telah sampai puncak bukit, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia memang sering menghabiskan waktu liburannya untuk memotret atau sekedar refreshing. Ia terkenal anak yang pendiam dan penyendiri.
“Hmm… Indah banget pemandangannya, sampai-sampai memori cameraku tidak cukup.” Canda Fian.
Saat Fian tengah asyik memotret, ia melihat seorang gadis yang tengah duduk melamun. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, yang jelas itu membuat otak Fian penuh pertanyaan. Fian ingin menghampiri gadis itu, namun ia tak memiliki cukup nyali untuk sekedar menyapa. Gadis itu duduk membelakangi Fian, sehingga Fian tidak mengetahui siapakah gadis tersebut.
Hari Senin, siapa yang tidak tahu hari itu? Semua pasti tahu, hari dimana semua dimulai kembali setelah liburan sehari. Hari ini adalah hari yang menyebalkan bagi Ochi, karena dia menerima beberapa kesialan tadi pagi. Pertama dia bangun kesiangan, kedua ia harus jalan kaki karena ayahnya bertengkar dengan bundanya, ketiga ia terlambat masuk gerbang alhasil ia dihukum mengelilingi lapangan 10 kali, keempat ia lupa mengerjakan PR. Hal yang sungguh menyedihkan baginya.
Bel istirahat telah berbunyi, hampir 90 persen siswa keluar meninggalkan kelas. Tapi bagi Ochi itu hanya membuang waktu saja. Baginya waktu istirahat yang hanya 15 menit, itu hanya cukup untuk memesan makanan saja.
Ochi lebih senang berada di kelas, sebenarnya dia anak yang ceria hanya saja setelah orangtuanya sering bertengkar ia lebih sering menyendiri dan melamun. Nida, Ifa, dan Ovit lah sahabat Ochi, yang selalu menemani Ochi saat sedih maupun senang. Nida seorang pemain basket dan aktif di kegiatan pramuka, Ifa seorang kutu buku yang pandai menyanyi, dan Ovit seorang lelaki yang pandai menulis cerpen.
“Ovittt!!!” panggil Fian.
“Iya? Ada apa An?” Tanya Ovit.
“Nanti temenin aku ke toko komik ya? Soalnya ada komik terbaru yang lagi booming Vit.”
“Oh… Ok aku nanti juga mau kesitu, tapi aku ajak Ochi sekalian ya.”
“Ochi??? Oh… temen sekelas kita yang penuh misteri itu ya?”
“Penuh misteri? Enggak tuh, ada-ada aja kamu.”
“Iya dia penuh misteri dulu dia ceria dan periang banget, sekarang dia agak beda gitu. Mungkin aku yang gak pernah merhatiin dia aja jadinya aku gak tau yang sebenarnya. Hahaha…”
“Hahaha.. iya kamu kan jarang merhatiin cewek hahaha… becanda, ok nanti sepulang sekolah.”
“Ok”
Sepulang sekolah, Ovit dan Fian becanda gurau sedangkan Ochi, dia hanya tersenyum melihat tingkah konyol temannya. Akhirnya mereka sampai juga. Ovit menuju lantai 2 karena buku yang ia cari berada disana. Sedangkan Ochi dan Fian, mereka di lantai 1 untuk mencari komik yang lagi booming. Setelah menemukan komiknya mereka langsung menuju kasir dan menunggu Ovit di luar toko.
Fian ingin memulai pembicaraan namun ia malu karena ia jarang berbicara dengan Ochi. Sampai akhirnya Ochi memulai pembicaraan, karena bagi Ochi berdiam selama berjam-jam itu tidak ada bedanya dengan yoga.
Ochi melontarkan pertanyaan yang ringan dan tidak membutuhkan pemikiran yang keras. Dan jawabannya pasti juga cuma “Ya” atau “Tidak”.
Setelah 30 menit kemudian, Ovit ke luar dari toko dan mengajak mereka berdua untuk pulang.
Ochi tiba di rumah disambut dengan pertengkaran kedua orangtuanya. Itu membuat Ochi kesal dan bosen. Ia menuju kamar dan menutup kamarnya dengan keras.
Ovit menelepon Ochi secara tiba-tiba, Ovit memang sering menelepon Ochi saat ia ada masalah. Ochi juga bingung kenapa Ovit mengetahui itu, mungkin oleh Allah lah yang memberi tahunya. Ovit mengakhiri pembicaraan sampai pukul 11 malam.
Ochi memang sudah menganggap Ovit seperti kakaknya, karena kakaknya Ochi telah tiada setelah merasa kecewa dengan kelakuan orangtuanya. Namanya Ocha, ia bunuh diri dengan mengendarai sepeda kecepatan 80km/jam di jalan yang strategis. Dan itu membuat Ochi tambah kecewa kepada ayah dan bundanya. Mereka tidak pernah bisa berdamai, hanya sesaat perdamaian, tetapi sesaat kemudian pertengkaran berjam-jam, berhari-hari, dan berbulan-bulan.
Ifa bukan saja gadis yang cantik tapi juga cantik suaranya. Dan itu membuat Fian jatuh cinta. Ifa dan Fian memang sudah dekat sejak pertama kali masuk SMA. Hanya saja Fian tidak begitu berani mengungkapkan itu semua.
Pagi ini Fian dan Ifa duduk dan bercanda di kantin sekolah. Tetapi sesaat kemudian Ovit dan Nida tiba di kantin dan langsung duduk di depan mereka berdua.
Mereka bercanda bersama-sama, namun bagi Ovit ada sesuatu yang membuat dia terkekang dalam bercanda bersama. Iya… dia ingat, Ochi belum datang. Dan Ovit belum bisa tertawa lepas jika Ochi belum muncul. Sebenarnya Ovit sangat mencintai Ochi lebih dari sekedar sahabat, namun dia belum siap untuk mengungkapkan itu semua.
“Ehem… kenapa kamu diem Vit?” Tanya Nida.
“Oh. Eh.. Enggak Nid, ini aku cuma khawatir sama Ochi. Soalnya dia belum datang gak kayak biasanya.” Jawab Ovit sedikit gugup.
“Ciee… bilang aja kamu kangen sama dia Vit.” Canda Ifa.
“Apaan sih…” sangkal Ovit dengan wajahnya yang memerah.
“Hahahaha.” Mereka bertiga tertawa melihat Ovit yang tersipu malu.
Firasat Ovit benar, hari ini Ochi tidak masuk karena demam mendadak. Dan setelah sepulang sekolah Fian berencana akan mengutarakan perasaannya kepada Ifa di bukit dekat rumahnya.
Fian mengajak Ovit, Ochi, Nida untuk menjadi saksi atas cintanya kepada Ifa. Ovit pun menjemput Ochi, awalnya Ovit ragu karena ia takut Ochi masih belum sehat. Namun Ochi bersikeras ingin ikut dan melihat kejadian langka tersebut.
Setelah semuanya sudah tiba, Fian mulai berpuisi gak jelas ke Ifa. Sampai akhirnya…
“Fa, aku tahu aku anak yang pendiam, penyendiri, dan gak tenar kayak cowok-cowok lain. Tapi… aku tidak bisa terus-terusan menyimpan perasaan ini, karena semakin kusimpan semakin kuingin memilikimu. Jadi … Apakah kamu mau menjadi kekasihku Fa?” Tanya Fian, dan itu membuat sahabatnya heran dan kaget ternyata Fian bisa melakukan hal seromantis ini.
“Em… Maaf Fian, aku gak bisa aku sudah punya, dia Fahmi.” Jawab Ifa
“Fa… Fahmi? Kelas MIPA 2? Gitaris sekolah kita?” Tanya Fian tak yakin.
“Iya… Kami sudah berpacaran selama 6 bulan, maaf ya aku tidak memberitahu kalian semua dan terima kasih sudah mencintaiku Fian.” Jawab Ifa dan meninggalkan sahabatnya yang sedang terdiam.
“Sabar ya An, mungkin dia belum jodohmu” Tenang Ovit.
“Iya An masih banyak cewek lain di dunia ini lagian dia juga sahabat kita.” Sambung Nida.
“Yaudah ayo kita pulang, kukira bakal jadi ending yang bahagia. Ovit, tolong anterin aku ya.” Ajak Ochi.
“Iya Chi, yaudah aku pulang dulu ya.” Pamit Ovit.
“Iya hati-hati teman” Pesan Nida. Dan Fian masih berdiam, mungkin dia syok dengan kejadian tadi.
Akhirnya setelah sekian lama duduk di kelas 1 SMA, mereka naik ke kelas 2. Dan mereka sekelas lagi, ditambah Fahmi yang 1 kelas juga dengan mereka berlima. Dan itu membuat Fian semakin panas dengan kemesraan Fahmi dan Ifa.
Semenjak kelas 2, Ochi sering sakit-sakitan. Ia juga pernah dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Itu membuat sahabatnya sangat sedih setiap hari.
Tapi setelah kedua orangtuanya jarang bertengkar, keadaan Ochi sedikit membaik. Dia juga jarang masuk rumah sakit lagi, tetapi dia harus check kesehatannya sebulan sekali.
Sahabatnya sangat senang Ochi kembali bersama mereka lagi. Apalagi Ovit, dia sangat sangat bahagia karena dia sangat merindukan kedatangan orang yang ia sayangi.
Sampai suatu ketika Fian mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan yang cukup serius. Ayah Fian mengusirnya karena saat itu ayahnya lebih percaya kepada istri barunya ketimbang Fian. Kejadian itu membuat Fian drop dan kecewa. Ia lari mengendarai motornya, karena dengan perasaan yang tak karuan ia tak fokus berkendara. Dan ia pun terlempar jauh dari motornya.
Sahabatnya sangat khawatir, mereka juga bingung karena Fian kekurangan banyak darah. Stok darah di rumah sakit tersebut telah habis dan yang cukup sulitnya lagi, Fian berdarah O.
Dengan segala keberanian dan kebaikannya, Ochi mendonorkan darahnya. Padahal saat itu Ochi tengah mengalami anemia. Ia bersujud sampai menangis agar dokter Farhan (Dokter yang melakukan check up, terhadap kesehatan Ochi selama ini.) mau mengambil darahnya untuk didonorkan kepada Fian.
Dengan berat hati ia memperbolehkan Ochi, namun dr. Farhan memberikan syarat. Yaitu setelah Ochi mendonorkan darah, Ochi harus mampu menjaga dirinya dan mempertahankan hidupnya, dan tentunya Ochi juga harus rajin berdoa dan berbakti. Dokter Farhan juga berjanji tidak akan memberitahukan ini semua ke orangtuanya.
Sebulan kemudian, Fian telah kembali ke sekolah. Begitu juga Ochi, namun keadaan Ochi semakin hari semakin memburuk. Dan itu membuat orang-orang yang menyayanginya khawatir. Fian merasa sedikit bersalah karena semua itu salah dia, Ochi jadi seperti ini.
“Ochi… apa kamu baik-baik saja” Tanya Ovit.
“Aku ba..baik-baik kok. Saat me… melihat ka..kalian bahagi..a aku juga ikut me..merasa bahagia” Jawab Ochi terbata.
Sepulang sekolah Ochi check up ditemani ayahnya. Dan keputusan dr. Farhan sangat mengecewakan Ochi.
“Ochi… hmmm… dokter Farhan bingung mau mengatakannya. Langsung aja ya. Kondisi kamu semakin hari memburuk maaf, dokter menyarankan kamu home schooling aja dulu. Soalnya jika kamu tetap sekolah, dokter khawatir keadaan kamu tidak segera membaik.” Jelas dokter Farhan.
“Dok… lakukan sesuatu terhadap anak saya dok, dokter tahu kan Ochi anak yang saya cintai dok. Saya akan bayar berapapun asal saya bisa melihat anak saya sukses dan bahagia di masa depan. Dokter juga tau kan anak saya pasti akan menolak jika saya mengadakan home schooling.” Ochi hanya terdiam melihat ayahnya menangis. Ia merasa bahwa ayahnya sangat menyayanginya, ia ingin bangkit dari sifat lemahnya ini.
“Saya selalu melakukan yang terbaik untuk anak bapak, tapi semua itu hanya Allah yang mampu mengabulkan dan menentukan itu semua pak. Dan sebenarnya semua itu juga demi kebaikan Ochi pak. Saya doakan Ochi kembali sehat seperti dulu, Amin.”
“Iya dok Amin terima kasih atas doanya, saya permisi dulu.”
“Iya pak silahkan.”
Di sekolah Ochi menceritakan semuanya kepada sahabat-sahabatnya. Bagaimanapun kondisinya Ochi akan tetap bersekolah dan tidak mengambil home schooling. Meski sebenarnya fisik Ochi sangat lemah saat ini.
Setelah kejadian tersebut, Fian memiliki perasaan kepada Ochi. Oh iya setelah diusir Fian tinggal bersama Ovit. Namun ia belum berani, ia takut cintanya ditolak seperti Ifa.
Dan seminggu kemudian, sesuatu telah terjadi Ovit menyatakan perasaannya kepada Ochi. Namun Ochi menolaknya karena bagi dirinya, Ovit seperti kakaknya sendiri. Dan jawaban yang mengejutkan lagi adalah…
“Maaf Vit, hidupku juga gak akan lama lagi. Jujur kondisiku semakin hari memburuk. Aku tak tahu, aku sudah berdoa kepada Allah. Dan aku juga pasrah jika nanti aku telah meninggalkan kalian semua…”
Jawaban Ochi membuat Ovit menangis. Ovit memeluk tubuh Ochi dengan erat. Nida, Ifa, Fahmi, dan Farhan yang sedari tadi mengintip, mereka menghampiri Ochi dan menangis seperti Ovit.
Beberapa bulan kemudian, Ochi pindah sekolah karena dia akan ke Singapore untuk pengobatannya. Itu membuat terpukul hati sahabatnya. Namun itu semua juga untuk kebaikan Ochi.
Semenjak Ochi pindah sekolah keadaan sahabatnya berubah. Ovit menjadi cuek dan malas mengerjakan PR, Fian menjadi pribadi yang sombong dan kasar, Nida menjadi pribadi yang lemah bahkan ia hampir dikeluarkan dari tim basket karena tidak bersemangat, Ifa dan Fahmi tidak begitu peduli dengan sahabatnya karena mereka merasa dunia seakan milik berdua.
Keadaan Ochi di Singapore telah membaik dan dia akan dipulangkan ke Indonesia. Namun Ochi tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah umum, dia akan mengikuti home schooling. Karena ayahnya tidak ingin Ochi kenapa kenapa.
Kabar itu telah sampai ke sahabat-sahabatnya, dan mereka semua berencana akan mengunjungi Ochi. Namun saat mereka ke rumahnya, Ochi tidak berada disana. Ochi telah pindah rumah bersama keluarganya. Karena saat itu ayahnya telah terlilit hutang yang cukup banyak untuk pengobatan Ochi. Ayah Ochi harus bekerja keras dan rela untuk menjual rumahnya.
Sahabatnya pun merasa kecewa dengan itu semua. Mereka sangat merindukan sosok Ochi yang sulit ditebak dan apa adanya. Mereka juga rindu saat Ochi tidur di kelas, memenangkan game online, jail ke teman yang lain, dan lain sebagainya. Bagi mereka Ochi adalah sosok sahabat yang sulit untuk digantikan.
5 Tahun kemudian. Ovit, Fian, dan Nida berada di Universitas yang sama. Namun jurusan mereka berbeda. Ovit lebih memilih jurusan Sastra dan Bahasa, Fian memilih jurusan Arkeolog, dan Nida memilih jurusan Pendidikan dan Jasmani. Saat ini mereka telah menyelesaikan S1 dan akan melanjutkan ke S2.
Lain cerita, Ifa dan Fahmi berada di Universitas yang sama dan jurusan yang sama pula yaitu, Seni Musik.
Meski mereka sibuk dengan jam kuliahnya, mereka tetap tidak mau menyusahkan orangtuanya. Mereka bekerja sambilan di sebuah coffee. ‘Coffee Break and Relax’ adalah tempat mereka berlima bekerja dan sekaligus tempat mereka bertemu kembali.
Suatu hari saat mereka tengah bekerja, mereka melihat Ochi berjalan memasuki sebuah tempat rehabilitasi yang baru dibuat. Karena penasaran mereka berencana besok akan memasuki tempat tersebut, karena kuliah mereka libur dan kebetulan kafe tempat mereka bekerja juga tutup.
Esok harinya mereka menuju tempat tersebut, dan ternyata memang benar Ochi berada disana. Mereka memeluk Ochi erat, begitu pula Ochi. Lalu Ochi menceritakan semuanya, dia juga menceritakan kalau sebenarnya tempat ini adalah Ochi yang membangun. Karena dari dulu Ochi sangat prihatin dengan kondisi penderita narkoba dan HIV Aids.
Setelah pertemuan tersebut sahabat Ochi sering mengunjungi tempat itu dan tidak segan-segannya mereka juga membantu Ochi.
Namun suatu ketika, Gerda (penderita HIV) telah memiliki rencana jahat untuk Ochi. Dulu Gerda adalah teman Ochi waktu SMP, Gerda juga pernah menyatakan cintanya kepada Ochi. Namun Ochi menolak cintanya. Dan yang membuat Gerda ingin berbuat jahat kepada Ochi, adalah karena cinta Gerda ditolak untuk yang kedua kalinya.
Gerda mengambil saputangan milik Ochi, saat itu Gerda adalah pasien yang masih menjalankan rehabilitasi karena Gerda belum sepenuhnya bebas dari AIDS. Ia menggunakan saputangan Ochi sebagai perantara untuk menularkan virus HIV.
Setelah beberapa hari Ochi merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia bertanya kepada dr. Chiko yang saat itu menjadi dokter untuk menangani penderita Narkoba dan AIDS. Kata dr. Chiko saat ini Ochi telah positif menderita AIDS.
Kabar itu telah didengar oleh sahabatnya, dr. Chiko menyarankan agar orang terdekat Ochi agak memberi jarak saat bersama Ochi. Dikhawatirkan AIDS tersebut menular ke sahabat dan keluarganya. Ovit dan dr. Chiko yang diserahi oleh Ochi untuk merawat dan menjaga pasien rehabilitasi sampai Ochi sembuh dan terbebas dari HIV.
Suatu hari, Ovit bilang ke Fian kalau Ochi sangat mencintainya setulus hati. Karena Ovit tidak tega jika melihat Ochi yang mengagumi Fian dari jauh. Namun jawaban Fian sangat kejam dan saat itu Ochi, Ifa dan Fahmi juga berada disitu.
“Aku gak bisa mencintai Ochi… kamu tau kan Vit!!! Aku mencintai Ifa!! Biarpun Ifa punya pacar dan dia nolak aku, tapi tetep aku menyayanginya!!!”
“An… hargai cinta Ochi sedikittt aja kenapa sih?… dia udah rela ngelakuin apa aja buat kamu, dia juga rela donorin darah padahal saat itu dia lemah. Apa kamu gak mau ngehargain dia?! Ha?!”
“Aku mau ngehargain dia… tapi kamu tau kan!!! Dia terkena HIV AIDS!!! DAN ITU TANDANYA DIA UDAH PERNAH NGELAKUIAN S*KS BEBAS!!! Kamu paham gak sih!!! Ha?!!! Dia ngelakuin itu ke gue karena mungkin aja dia ingin gue mengakui anak yang dia kandung!!! Biarpun dia sahabat kita kalau udah kayak gitu!!! Gue jijik TAU!!!”
“JAGA MULUT KAMU!!!! Emang HIV menular gara-gara seks bebas doang?! enggak!!! Lo bener-bener keterlaluan tau!!! Bisa-bisanya sahabat lo, lo bilang ngelakuin gituan. Perkataan lo bener-bener kasar dan gak beradab!!! Lo bukan FIAN YANG GUE KENAL TAU!!!”
Ovit meninggalkan Fian yang tengah berdiam diri. Sedangkan Ochi tengah menangis ditemani Ifa dan Fahmi. Semenjak kejadian itu, setelah Ochi sembuh Ochi pergi ke Singapore. Hanya Nida saat itu yang diberitahu oleh Ochi, Ochi pergi ke Singapore karena dia telah menderita penyakit Alzhemeir (atau penyakit menurunnya ingatan otak).
Namun hal tersebut ia ceritakan ke sahabat-sahabatnya yang lain. Saat itu tanggung jawab tempat rehabilitasi tersebut sepenuhnya diserahkan ke dr. Chiko dan sahabat-sahabatnya, sampai ia kembali ke Indonesia.
Dan Gerda telah mengaku akan kejahatannya kepada Ochi. Ia sangat menyesali perbuatannya. Fian dan Ovit sangat marah padanya namun sahabat yang lain mencegah mereka berdua untuk tidak melukai Gerda. Ovit dan Fian juga sudah bersahabat kembali. Fian juga menyesali sudah melukai hati Ochi.
Sampai akhirnya Nida memberitahukan ke teman-temannya kalau Ochi telah tiada. Berita itu membuat mereka semua drop, terutama Fian dan Ovit. Karena sebenarnya Fian juga menyayangi Ochi. Sedangkan Ovit, meski ditolak berapa kalipun oleh Ochi ia tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini untuk Ochi.
Sejujurnya saat Ovit menangis dan mengatakan bahwa cintanya kepada Ochi sulit untuk dihilangkan, telah membuat hati Nida teriris. Karena Nida mencintai Ovit sejak dulu, hanya saja dia gak pernah PD, dia juga gak yakin bisa mendapatkan hati Ovit sedangkan dirinya tomboy seperti cowok.
Umur 25 tahun, Ifa dan Fahmi menikah dan mengundang sahabat-sahabatnya. Di pernikahan mereka berdua, Nida dan Ovit mengakui kepada sahabatnya kalau sebenarnya mereka juga akan menikah.
Setelah itu mereka semua berbincang-bincang dan menikmati hidangan yang ada. Di sisi lain Fian tengah termenung menatap matahari di ujung laut, yang kebetulan saat itu pantai menjadi salah satu tempat yang dipakai untuk resepsi pernikahan Ifa dan Fahmi.
“Hei!!! Masih ingat ini?” tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah komik anime ‘GUARDIAN ANGEL’ -komik yang pernah ia pinjamkan untuk Ochi-.
Seketika itu Fian menoleh dan mendapati Ochi dengan penampilannya yang telah memakai hijab.
“Chi… I..ni be…be…neran kamu?”
“Iya ini aku. Masa’ kamu lupa”
“Ta..tapi ka… mu… kan dah meninggal?”
Belum sempat Ochi berbicara, Nida menceritakan kejadian yan sebenarnya. Kalau sebenarnya Ochi belum meninggal, saat itu Ochi sudah sembuh namun Ochi pesimis jika ia kembali ke Indonesia saat itu, Fian juga tetap gak akan pernah ngehargain dia atau bahkan Fian akan membenci Ochi. Ochi trauma dengan kejadian saat Fian mengatakan kalau Ochi melakukan s*ks bebas. Perkataan Fian sangat melukainya saat itu.
Fian pun meminta maaf dan mengatakan kalau sebenarnya dia sangat menyayangi Ochi. Ochi memang gadis yang baik dia memaafkan Fian begitu saja.
“Aku memaafkanmu Fian, aku juga masih mencintaimu, dan terima kasih atas komik yang kamu pinjamkan ini, karena aku jadi tau perjuangan itu memang terkadang tidak dihargai namun saat kita ikhlas dengan itu semua, semuanya akan berbuah manis. Kayak cerita Kei Himeno yang rela kesakitan hanya untuk mendapatkan cinta Toya Kashiwagi, bahkan ia juga rela menghabiskan harta dan kekayaannya. Begitu pula cintaku ke kamu Fian.”
Fian memeluk tubuh Ochi erat, dan semua orang yang melihat kejadian tersebut merasa terharu. Dan akhirnya mereka hidup bahagia dengan petualangan baru dan hidup baru mereka.
THE END

kisah radit dan pak toto

Suatu hari tinggalah seorang anak bernama Radit. Ketika umur anak itu menginjaki usianya yang ketujuh tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan. Saat itu Radit masih berada di bangku kelas satu SD yang masih membutuhkan sosok orangtua. Radit adalah anak yang miskin, dia tidak mempunyai keluarga yang bisa menyayanginya kecuali kedua orangtuanya itu. Namun sepertinya Tuhan telah mengirimkan seseorang yang sangat mulia, orang itu bernama pak Toto. Pak Toto adalah tetangga baik Radit dan kedua orangtuanya. Pak Toto yang sehari-harinya hanya memiliki usaha warung memutuskan untuk merawat Radit yang hanya sebatangkara, ia tidak tega melihat anak sekecil Radit sudah terlalu cepat kehilangan kedua orangtuanya. Pak Toto sendiri telah ditinggal oleh istrinya saat melahirkan anak pak Toto yang juga meninggal bersama istrinya saat dilahirkan.
Pada suatu malam, Radit demam tinggi. Pak Toto sangat panik dengan keadaan Radit yang semakin memburuk. Sementara pak Toto sedang tidak mempunyai uang untuk membawa Radit ke rumah sakit. Pak Toto mencoba untuk meminjam uang kepada tetangganya namun tidak ada satu tetangga pun yang mau meminjamkan uang kepada pak Toto. Pak Toto sangat kecewa sekali dengan sifat tetangga-tetangganya yang sangat kikir meskipun pak Toto hanya meminjam uang sedikit saja. Kebetulan pak Toto mempunyai burung yang cukup bagus, dan ia memutuskan untuk menjualnya ke pasar meskipun burung itu adalah burung kesayangannya dan yang menemani dirinya ketika kehilangan istri dan anaknya dahulu. Pak Toto yakin dengan menjual burung kesayangannya, Radit bisa segera dibawa ke rumah sakit. Pagi-pagi buta pak Toto pergi ke pasar dan langsung menuju ke tempat penjualan burung. Pak Toto berhasil menjual burung itu dan segera membawa Radit ke rumah sakit yang kondisinya semakin memburuk.
Ketika di rumah sakit pak Toto terkena marah oleh dokter karena pak Toto terlambat membawa Radit ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Radit terserang penyakit TBC. Pak Toto tidak terlalu mengerti dengan penyakit itu, ia mengira bahwa TBC adalah penyakit yang biasa-biasa saja. Setelah mendengar penjelasan dokter tentang penyakit TBC itu, pak Toto seketika langsung bersedih karena penyakit Radit cukup serius, apalagi Radit harus dirawat selama dua minggu di rumah sakit. Pak Toto semakin bingung dengan masalah biaya yang harus dibayarnya karena ia sudah tidak mempunyai lagi uang untuk membiayai pengobatan Radit. Pak Toto pun meminta pertolongan kepada Tuhan untuk memudahkan cobaan ini.
Karena saking sayangnya pak Toto kepada Radit yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, pak Toto pun rela menggadaikan rumahnya kepada bank agar bisa membayar perawatan Radit di rumah sakit. Alhasil Radit pun bisa kembali sembuh total dan bisa segera pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, pak Toto bingung harus mencari uang kemana untuk membayar hutangnya ke rumah karena jika tidak ia dan Radit akan diusir dari rumah satu-satunya milik pak Toto itu. Pak Toto tidak menyerah sama sekali, ia mempunyai kerabat baiknya yang berjualan daging di pasar dan berniat untuk meminjam uang kepada kerabatnya itu esok hari.
Saat Radit pergi ke sekolah, pak Toto pun pergi ke pasar untuk menemui kerabatnya baiknya itu. Ketika tiba di pasar dan akan segera menuju tempat berjualan kerabat baiknya, pak Toto lebih dahulu dipanggil oleh seseorang dari arah berlawanan. Ternyata orang tersebut adalah penjual burung yang membeli burung kesayangan pak Toto bulan lalu ketika pak Toto sedang membutuhkan uang untuk membawa Radit ke rumah sakit. Pak Toto heran mengapa orang itu memanggilnya. Penjual burung itu menjelaskan kepada pak Toto bahwa burung itu adalah burung yang sangat langka, dan banyak sekali diburu oleh para kolektor burung. Dan minggu lalu ada saudagar kaya yang membeli burung itu dengan harga yang sangat fantastis, tidak diduga sebelumnya. Saudagar kaya itu membeli burung tersebut dengan harga seratus juta rupiah. Penjual burung itu merasa tidak berhak menerima uang itu karena semua itu milik pak Toto. Beruntung sekali pak Toto menjual burungnya kepada seorang penjual yang sangat jujur dan baik hati. Pak Toto tidak menerima uang itu begitu saja karena burung itu sudah bukan miliknya lagi. Mereka berdua pun merasa bingung dengan hal itu.
Tak lama kemudian, mereka pun menemukan solusinya. Agar adil mereka pun memutuskan untuk membagi dua hasil tersebut, yaitu masing-masing dari mereka mendapatkan 50 juta. Karena burung itu bukan milik pak Toto lagi, pak Toto pun memberi uang kepada penjual itu sebesar yang penjual beri saat membeli burung itu dari pak Toto. Alhasil mereka pun merasa senang dan tenang dengan keadilan itu.
Dengan membawa uang yang cukup besar ke rumahnya, pak Toto langsung mengabarkan kabar gembira ini kepada Radit anak angkatnya itu. Dengan uang itu, pak Toto bisa membayar hutangnya kepada bank dan sisanya ia pakai untuk kembali menjalankan usaha warungnya. Berkat kesabaran dan kegigihan pak Toto, kini pak Toto dan Radit bisa hidup lebih bahagia dari sebelumnya. Mereka pun tak pernah lupa untuk bersyukur dan terus memohon kepada Tuhan untuk hidup yang lebih baik.

terakhir bersamamu

Namaku Yusyifa panggil saja Syifa. Aku mempunyai sahabat bernama Fhifhian panggil dia Fhian. Dalam beberapa hal, kami mempunyai kesukaan yang sama. Kami sangat suka kucing dan kami juga suka warna aqua marine. Aku akan menceritakan kejadian pilu yang membuatku menangis sejadi-jadinya.
2 HARI YANG LALU…
“Syifa, sekarang kita main yuk!” ajak Fhian sambil berjalan pulang.
“Yuk, Fhi. Main apa?” tanyaku. Fhian sedikit berfikir.
“Hmm… Ke FS World yuk! Aku kangen sama Pilo.” jawabnya. Aku mengangguk.
Oh ya, FS World adalah tempat seperti taman tapi lebih luas. FS World adalah tempat yang indah. Dan Pilo adalah anak kucing jantan yang kami pungut dari pinggir jalan. Saat kami pungut, Pilo dalam keadaan kelaparan. Jadi, kami berinisiatif untuk mengurusnya, dan Pilo adalah satu-satunya peliharaan kami.
“Tapi, pake aqua marine ya! Biar kompak.” usul Fhian. Aku mengacungkan jempol tanda setuju.
“Tapi sore, ya? Soalnya, kalau sekarang aku harus jaga adik.” kataku.
“Iya deh..” sahut Fhian.
Tak terasa, kami sudah dekat rumah. Rumahku dan Fhian memang bersebelahan.
“Dah, Fhi!” sapaku sambil melambaikan tangan.
“Dah, Syif!” sapa Fhian berbalik sapa padaku.
Aku langsung membuka pintu rumahku.
“Assalamu’alaikum, Bu! Syifa pulang nih!” sahutku. Tak ada yang menyahut sama sekali.
“Loh, ibu sama adik kemana, ya? Kok sepi.” batinku. Aku berjalan menuju tengah rumah sambil sesekali memanggil ibu dan adik.
Kamarku berada di ruang kedua. Saat hendak menuju tangga, aku melewati dapur dahulu. Tiba-tiba, aku melihat kertas di atas meja makan. Aku melihat isi kertas tersebut. Ternyata, isinya adalah….
Untuk Syifa
Syifa, maafkan Ibu dan adikmu. Ibu pergi tidak bilang dulu padamu. Maaf ya, Nak. Ibu pergi ke rumah sakit dulu. Sebab, pamanmu sedang sakit dan Ibu pergi menengoknya sambil membawa adikmu. Jika kamu ingin makan, Ibu sudah siapkan nasi hangat dan lauk pauk kesukaanmu. Ibu juga sudah siapkan jus kemasan dan kue coklat untukmu, jika kamu bermain dengan Nak Fhifhian. Pulang nanti, Ibu belikan makanan dan minuman kesukaanmu. Jika kamu ingin pergi, titipkan kunci pada Bu Suci ya, Nak. Jaga dirimu baik-baik.
IBU
SAYANG
SYIFA
Setelah membaca surat singkat dari Ibu, aku sedikit lega. Aku pergi ke kamarku untuk mengganti pakaianku. Setelah mengganti pakaian, aku mulai berwudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Setelah sholat, aku pergi makan. Setelah kenyang, aku duduk di sofa sambil melihat acara televisi.
“Ah, nggak ada yang seru!” gerutuku lalu mematikan televisi.
“Hmm.. Ajak Fhian boleh juga nih..” batinku. Aku mengambil gadgetku dan mulai mengetik SMS pada Fhian.
Yusyifa: “Fhi, main di rumahku yuk.”
Fhifhian: “Bukannya kamu lagi jaga adik?”
Yusyifa: “Gak, Fhi. Ibu sama adikku pergi ke rumah sakit buat tengok pamanku.”
Fhifhian: “Terus?”
Yusyifa: “Yah, kamu cuek amat sih!”
Fhifhian: “Hehe.. Becanda, Syif.”
Yusyifa: “Temenin aku di rumahku yuk”
Fhifhian: “Kalau sekarang nggak bisa, syif. Aku lagi latihan piano. Setelah ashar baru bisa deh..”
Yusyifa: “Ya sudah. Gak apa-apa. Aku gak maksa kok. Bye..”
Fhifhian: “Bye…”
Hari ini, merupakan hari paling membosankan untukku. Karena rasa bosan yang semakin menyerang, aku mulai memutuskan untuk tidur.
Ruang mimpi mulai menyelimutiku. Aku berada di rumah sakit yang begitu sepi. Dengan lorong yang gelap, membuat suasana semakin mencekam. Aku mengenakan baju pasien yang sudah usang. Aku berantakan seperti orang yang sudah disiksa. Langkah kakiku terpatah-patah. Wajahku pucat pasi. Aku melihat ke ruang mayat. Aku sangat kaget. Jantungku berdetak kencang sekali. Aku melihat mayat gadis bernama FHIFHIAN ADILLA. Itu Fhian sahabatku! Dan di sampingnya ada mayat gadis juga bernama YUSYIFA SAFITRI.
“Aku meninggal?” aku bertanya-tanya. Aku mulai menangis terisak-isak. Aku mendengar suara Fhian memanggilku. Aku semakin takut. Nafasku sesak. Aku berteriak. Ternyata, itu hanya mimpi. Aku terbangun dari tidurku. Fhian ada di sampingku.
“Syifa, bangun!” panggilnya.
“Fhi..Fhian?”
“Iya, ini aku. Kamu lupa kunci pintu, kan?” tanyanya.
“Ka.. Kamu gak apa-apa, kan? Kamu gak meninggal, kan? Kamu gak ada di ruang mayat yang gelap itu, kan?” aku masih kaget.
“Hei, kamu ini kenapa sih? Coba ceritain yang bener deh.”
“Tadi aku tidur. Terus, aku mimpi aku ada di rumah sakit yang gelap dan serem. Aku lihat, aku dan kamu meninggal.” jelasku.
“Oh, itu cuma bunga tidur. Tenang aja, aku ada disini kok. Gak usah takut. Ayo kita kunjungi Pilo.” aku sedikit tenang dan mulai mengganti pakaian degan hijab dan pakaian berwarna aqua marine sama seperti Fhian.
Hanya dengan hitungan menit, kami pun sampai di FS World. Aku melihat Pilo sedang tidur. Fhian mengelus kepala Pilo dengan lembutnya. Pilo terbangun dan mengeong. Kami pun bermain dengannya.
Saat inilah tragedi terjadi. Saat itu, Pilo mengejar kupu-kupu sampai ke tengah jalan raya. Fhian menyusulnya dan hendak mengambil Pilo ke taman. Tiba-tiba, ada sedan hitam berkecepatan tinggi hendak menabrak Fhian dan Pilo. Aku tersentak kaget.
“FHIAN!!” teriakku.
“AAAAGH!!!” Fhian berteriak.
Aku segera bertindak. Aku segera berlari ke arah mereka secepat mungkin, menghalangi sedan hitam itu agar tak menabrak pada mereka. Tapi, aku, Fhian, dan Pilo tertabrak mobil itu. Kepalaku terbentur keras ke pohon besar di pinggir jalan. Aku sulit bergerak. Fhian hanya sedikit luka di kening dan kakinya. Pilo selamat.
“Fhi.. Fhian..” panggilku pelan. Pengemudi sedan itu malah melarikan diri. Kamipun menjadi korban tabrak lari. Fhian mendekatiku dengan cara mengesot.
“SYIFA! BANGUN, SYIF! SYIFA! SYIFA! TOLONG!” teriaknya mencari bantuan.
Pandanganku kabur, awalnya buram, semakin lama malah gelap gulita. Aku tak bisa melihat semuanya. Tapi, aku bisa mendengar teriakan Fhian dam merasakan beberapa orang mengangkat tubuhku. Aku tak sadarkan diri.
KEMARIN…
Aku sedikit terbangun. Aku berada di rumah sakit. Fhian berada di sampingku. Alat bantu pernafasan terpasang pada diriku.
“Syifa! Kamu bangun? Aku disini, syif. Jangan tinggalin aku.” katanya. Aku tersenyum simpul padanya. Tiba-tiba, aku tak sadarkan diri lagi. Tapi, masih terdengar suara di sekitarku.
Fhian memanggil dokter, lalu berkata.
“Dok, dok, tadi Syifa bangun dok. Dia senyum padaku. Tapi, dia pingsan lagi. Tolong dia, dok!” katanya.
2 JAM KEMUDIAN…
Aku terbangun, Ibu ada di sampingku.
“Ibu?”
“Syifa? Kamu bangun, Nak?”
“Syifa dimana, bu?”
“Kamu ada di rumah sakit, Nak. Kamu, Nak Fhifhian, dan Pilo jadi korban tabrak lari.”
Setelah mendengar nama FHIFHIAN, aku bertanya pada Ibu.
“Fhian dimana, bu? Dia gak apa-apa, kan?” Ibu menghela nafas. Dan menjawab.
“Nak Fhifhian ada di jantungmu, matamu dan darahmu.”
“Ma.. Maksud Ibu apa?”
Ibu membawaku menaiki kursi roda dan mengajakku ke ruang mayat. Ibu meminta penjaga ruang mayat untuk membuka salah satu mayat.
Setelah dibuka, ternyata.. ITU FHIAN!
“Ini Fhian, bu?” Ibu mengangguk pelan.
“Ibu bohong, kan? Ini bukan Fhian, kan? Ini orang lain, bu! FHI! FHI! BANGUN, FHI! JANGAN PERGI!” aku mulai menangis sambil memeluk mayat Fhian. Ibu memelukku erat
“Dokter bilang, jantung kamu lemah, kamu buta, juga kamu kehilangan darah. Gak ada darah yang cocok buat didonorkan. Tapi, Nak Fhifhian maksa dokter. Kalau dia mau donorkan jantungnya, matanya, juga darahnya. Terus dia bilang gini “Dok, saya siap mati demi sahabat saya.” Ya, akhirnya dokter mendonorkan organ tubuh Nak Fhifhian untukmu.” jelas ibu.
“Segitunya, bu?” aku terheran-heran. Ibu mengangguk.
“Pilo mana, bu?” tanyaku.
“Pilo dirawat oleh suster, Nak.” jawab ibu.
Aku memandangi FHIFHIAN ADILLA yang terbaring kaku tanpa detak jantung, tanpa nafas, dan tanpa denyut nadi. Kini tak ada suara tawa, suara penyemangat, dan senyum manis di wajahnya. Hanya ada wajah pucat tanpa ekspresi. Takkan ada lagi tangan hangat yang memegangku, rangkulan yang menemaniku, dan tak ada lagi pelukan nyaman.
Selamat tinggal FHIFHIAN ADILLA sahabatku! Semoga kau kekal di surga!

my brother

Mataku yang sedang berat dibuka tiba-tiba langsung terbuka lebar ketika melihat seseorang di samping tempat tidurku. Seseorang yang selama ini aku rindukan sudah ada di sampingku, bahkan di hadapanku. Aku membangunkan tubuhku yang masih berbaring di kasur, lalu mengambil posisi duduk.
“Raffa, benar ini kamu?” Aku berkata sambil memegang wajahnya dengan kedua tanganku, karena tak menyangka dia sudah kembali ke rumah.
“Iya Kak, ini Raffa!” Dia menjawab sambil memegang lembut tanganku yang sedang memegang wajahnya. Kemudian, dia memberikan senyuman manisnya kepadaku.
Aku langsung memeluknya dengan erat, dan berkata. “Kakak kangen banget sama kamu. Maafin kakak ya, seharusnya kakak yang menanggung semua ini, bukan kamu. Maafin kakak juga, karena kakak gak bisa menepati janji kakak untuk selalu mengunjungi kamu dulu.”
“Gak apa-apa Kak, Raffa kan udah janji sama ayah untuk selalu melindungi kakak. Lagi pula Raffa juga yang salah, karena Raffa gak mendampingi kakak waktu itu.” Dia membalas pelukanku. Erat sekali.
Hari itu, aku diajari mengendarai sepeda motor oleh Raffa, adik laki-lakiku. Dia sudah berjanji padaku akan mengajariku bagaimana cara mengendarai sepedah motor setelah ia lulus dari SMA. Padahal, aku sudah memintanya untuk mengajariku mengendarai sepedah motor dari dulu, sebelum ia naik ke kelas tiga, sampai akhirnya ia mau lulus. Namun, ia selalu menolaknya dengan alasan aku perempuan. Ia tidak mau aku kenapa-kenapa, bahkan terluka jika terjatuh dari motor. Tapi, aku tidak mempedulikan kekhawatirannya itu. Aku selalu memaksanya untuk mengajariku, sampai akhirnya ia luluh dan mau mengajariku.
Aku tidak mau terus menerus merepotkannya karena selalu mengantarku ketika mau pergi kemana-mana. Makanya aku ingin belajar untuk bisa mengendarai sepeda motor sendiri, agar aku tidak perlu lagi diantar olehnya ketika mau pergi kemana-mana. Selama ini Raffalah yang selalu mengantarku ketika mau pergi kemana-mana. Sampai akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ia telah dinyatakan lulus dari SMA. Sehari setelah kelulusan, ia menepati janjinya untuk mengajariku mengendarai sepeda motor.
Pertama, raffa memberitahuku apa saja fungsi-fungsi yang ada di sepeda motor itu. Kedua, dia membantuku untuk menaikinya. Aku sempat hampir terjatuh karena tidak kuat membawanya sendiri, tapi dia siap siaga di sampingku untuk membantuku. Lalu, dia menyuruhku menghidupkan motornya dan perlahan-lahan menjalankannya. Dia masih tetap berada di sampingku untuk menyeimbangiku. Sampai akhirnya aku bisa mengendarai motor yang sedangku naiki sendiri dengan seimbang.
“Raffa, kakak bisa! Kakak bisa!” Kata-kata itulah yang hanya bisa aku ucapkan karena kesenangan sudah bisa mengendarai sepeda motor sendiri yang menjadi keinginanku selama ini.
“Iya Kak, hati-hati ya!” Raffa menjawab sambil berlari kecil mengikutiku dari belakang.
Karena sudah merasa bisa dan nyaman dengan posisiku yang berkendara ini, aku menambah laju kecepatannya. Melihatku begitu, Raffa memperingatiku untuk tidak menambahkan laju kecepatan berkendaraku. Tapi, aku tidak mengindahkannya. Aku tetap saja menambahkan kecepatan berkendaraku. Dia terus memperingatiku untuk tidak begitu, tapi lagi dan lagi aku tidak mengindahkannya. Dari ketidakmauanku untuk mendengarkan peringatannya itu, aku jadi tidak bisa menguasai sepeda motor yang sedang aku kendarai.
“Raffa, tolong kakak! Tolong kakak Raf!” Aku hanya bisa mengatakan itu karena panik. Aku takut akan terjatuh atau terjadi hal buruk yang tidak diinginkan lainnya. Sampai akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
“Kakak awas di depan!!” Raffa berteriak memberitahuku bahwa di depanku ada seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan. Karena panik dan tidak bisa lagi mengendalikan sepeda motor yang sedang kukendarai, akhirnya aku menabrak anak kecil itu hingga terpental jauh dan terkapar di jalan. Raffa langsung berlari menuju dimana anak kecil itu berada untuk melihatnya. Sementara aku langsung turun dari motor meski motornya masih menyala. Alhasil, kaki dan tanganku terluka karena terjatuh di jalan. Aku pun langsung berlari menuju Raffa yang sedang melihat anak kecil yang kutabrak tadi tanpa mempedulikan lukaku yang terasa sangat sakit.
“Kak, anak ini..” Raffa berkata sambil memegang urat nadi yang ada di tangannya.
“Kenapa Raf, kenapa?” Aku langsung berucap sebelum Raffa melanjutkan ucapannya mengenai keadaan anak itu.
“Anak ini..” Raffa kembali berkata hanya seperti itu.
“Kenapa Raf? Jawab kakak!” Aku sedikit kesal karena dia tidak menjawab pertanyaanku yang membuatku panik.
Tapi, lagi dan lagi dia tidak menjawabku. Aku langsung memegang nadi yang ada di tangan anak itu seperti yang dilakukan Raffa tadi agar aku tahu bagaimana keadaannya. Setelah dipegang nadinya tidak berdenyut. Aku panik. Aku kembali mengecek keadaannya dengan cara menaruh telunjuk tanganku dihidungnya. Nafasnya tidak ada. Berarti aku sudah membunuhnya. Tidaaaaak. Aku menangis. Aku tidak mau dipenjara karena sudah menghilangkan nyawa orang lain.
Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan melihat kami, terutama anak kecil itu. Mereka langsung bertanya siapa di antara kami, aku dan Raffa, yang menabraknya hingga tewas. Kami diam, tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya bisa memegang erat lengan baju Raffa karena takut mereka tahu bahwa aku yang sudah menabraknya. Sementara Raffa, ia terlihat panik dan takut sepertiku. Karena kami tidak menjawabnya, mereka kembali bertanya tentang pertanyaan tadi pada kami. Tapi, lagi dan lagi kami tidak menjawabnya. Sampai akhirnya Raffa membuka mulut. Dia mengatakan pada mereka bahwa dirinyalah yang sudah menabrak anak itu. Mereka langsung membawa Raffa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Padahal, perbuatan itu bukan dia yang melakukannya, melainkan aku.
Aku hanya bisa menangis melihat Raffa dibawa mereka ke kantor polisi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin Raffa dipenjara karena kesalahan yang bukan diperbuatnya. Tapi, aku juga tidak mau dipenjara jika mengatakan yang sesungguhnya pada mereka bahwa akulah yang menabrak anak itu. Sampai akhirnya mereka membawa pergi Raffa dariku ke kantor polisi. Sementara aku diantar pulang oleh salah satu orang dari mereka menggunakan motor yang kukendarai tadi.
Ketika sampai di rumah aku langsung masuk ke dalam dan memeluk ibu yang sedang masak. Bingung melihatku begitu, ibu pun bertanya.
“Kamu kenapa sayang?”
“Raffa Bu, Raffa.” Aku menjawab sambil terus menangis.
“Adik kamu kenapa?” Tanya ibu sambil melepaskan pelukanku. Aku tidak menjawabnya. Aku masih terisak dalam tangisanku.
“Ya ampun.. tangan dan kaki kamu kenapa?” Ibu sedikit panik ketika menyadari ada luka di tangan dan kakiku. Tapi, aku tetap tidak menjawab ibu.
“Tangan dan kaki kamu kenapa?”
“Adik kamu mana?”
“Sebenarnya ada apa? Jawab ibu?”
Karena ibu terus menerus bertanya, akhirnya aku menjawabnya. Aku menceritakan semua pada ibu apa yang telah aku dan Raffa alami.
“Ya ampun Reffaaa..” ibu terkulai lemas setelah aku menceritakan semuanya.
“Maafin aku Bu, maafin aku.” Aku berkata sambil menggenggam tangan ibu dan menciumnya.
Ibu pasti marah besar padaku. Anak perempuannya sudah melakukan perbuatan seperti itu. Padahal, ibu selalu mendidikku dengan baik untuk menjadi anak yang baik pula. Tapi, ternyata aku salah. Ibu tidak marah padaku, ia malah mengobati lukaku dan mengajakku untuk menemui Raffa yang berada di kantor polisi.
Sesampainya disana, aku dan ibu langsung menemui Raffa. Ia terlihat biasa saja, tidak ketakutan sama sekali. Aku hanya bisa mengatakan maaf padanya karena harus menanggung kesalahanku.
“Maafin kakak Raf, maafin kakak.”
“Gak apa-apa Kak. Raffa gak apa-apa kok disini, asalkan bukan kakak yang disini.” Dia menjawab dengan santai tanpa memikirkan bagaimana hidupnya ke depan jika harus tinggal di penjara, dan bagaimana dengan keinginannya untuk melanjutkan kuliah setelah lulus dari SMA di perguruan tinggi negeri yang ia impi-impikan?
“Kakak janji akan selalu datang kesini untuk menemui kamu. Kakak janji Raf!!” Aku mengatakan itu sebelum pergi meninggalkannya di kantor polisi. Karena, jam berkunjung untuk menemuinya sudah habis.
Tapi, keesokkan harinya aku jatuh sakit. Tubuhku terasa sakit semua akibat jatuh dari motor. Sehingga, aku tidak mengunjunginya seperti janjiku itu. Dan keesokkan harinya lagi, sakitku semakin parah. Bukan hanya terasa sakit, tubuhku juga demam. Ibu pun membawaku ke rumah sakit karena takut keadaanku semakin memburuk. Padahal, sebelumnya ibu sudah menyuruhku untuk ke dokter, tapi aku tidak mau. Akibatnya, keadaanku semakin memburuk.
Setelah seminggu mendapat perawatan, akhirnya aku kembali pulih dan sudah diperbolehkan pulang. Tapi, lagi dan lagi aku belum bisa mengunjungi Raffa. Karena tugasku sebagai mahasiswi banyak yang harus aku selesaikan. Sementara ibu? Ibu sibuk dengan pekerjaan rumah dan pekerjaannya sebagai pembuat kue untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami dari hasil penjualannya itu. Sudah setahun ini ibu membuat kue untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami, karena ayah sudah pergi meninggalkan kami selama-lamanya akibat kecelakaan yang menimpanya.
Sekarang, setelah sekian lama berlalu, akhirnya aku bisa kembali melihat raffa dan tinggal bersamanya di rumah. Juga bisa merasakan hangatnya pelukannya seperti sekarang ini.
“Mandi Kak, ibu udah nyiapin sarapan buat kita. Nanti kita sarapan bareng ya!” Raffa berkata sambil melepaskan pelukannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menjawabnya. Kemudian, dia ke luar dari kamarku. Lalu, aku langsung ke kamar mandi untuk bersiap-siap sarapan bersamanya setelah sekian lama tidak sarapan bersama.
Sekitar tiga puluh menit lamanya, aku sudah merapikan diri sehabis mandi dan langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama ibu dan Raffa.
“Kakak kok kurusan? Kenapa?” Raffa berkata sambil memperhatikan bentuk tubuhku yang kini berubah menjadi lebih kurus dari pada dulu.
“Kakak kamu tuh sakit sewaktu jatuh dari motor dulu, terus juga gak mau makan, ya jadinya gitu deh. Padahal kakak itu sibuk banget dengan kegiatan kampusnya yang banyak memakan tenaga.” Ibu membuka mulut menjawab pertanyaan Raffa tadi.
“Ya ampun.. kasihan kakak. Maaf ya Kak, karena Raffa gak benar mengajari kakak mengendarai motor dulu, kakak jadi seperti itu.” Ucap Raffa yang mengungkit kejadian waktu itu.
“Nggak Raf, kamu gak perlu minta maaf, kamu sama sekali gak salah. Kakak yang seharusnya minta maaf. Coba waktu itu kakak mendengarkan ucapan kamu, pasti semua itu gak akan terjadi, dan kamu juga gak harus dipenjara karena kesalahan kakak. Maafin kakak ya Raf.” Aku berucap dengan penuh penyesalan.
“Gak apa-apa Kak, Raffa sudah berjanji pada ayah untuk selalu melindungi kakak dan ibu. Lagi pula Raffa kan laki-laki, sudah seharusnya Raffa menjadi pelindung buat perempuan, termasuk kakak.” Raffa selalu berkata seperti itu. Seperti janjinya pada ayah untuk selalu melindungiku dan ibu sebelum ayah pergi meninggalkan kami dulu. Aku hanya diam mendengar ucapannya itu. Ucapannya yang membuat air mata tiba-tiba membendung di kelopak mataku. Tapi, aku berusaha untuk menutupinya dari dirinya dan ibu.
“Kak, mau belajar buat mengendarai motor lagi?” Tanya Raffa.
“Nggak Raf, sampai kapan pun kakak gak akan pernah mau lagi buat belajar mengendarai motor!!” Jawabku.
“Yakin? Kakak gak iri sama teman-teman kakak yang udah bisa mengendarai motor sendiri?”
“Kali ini nggak! Kakak kapok!!”
Mendengar aku berucap seperti itu, ibu dan Raffa tertawa. Aku pun begitu. Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan Raffa dan ibu seperti dulu. Rasanya aku juga menyesal karena dulu telah kesal mempunyai adik seperti Raffa. Padahal, sekarang Raffa selalu menjadi penolongku. Melindungiku dari apa pun yang akan menimpaku, juga membelaku disaat aku melakukan kesalahan. Seperti yang sudah ia lakukan dulu ketika aku menabrak anak kecil hingga tewas dan ia yang di penjara karena membelaku. Ia rela menanggung kesalahan yang bukan ia lakukan.
Dulu, ketika waktu kecil, Raffa selalu ingin ikut disaat aku bermain dengan teman-temanku. Dia akan menangis jika aku tidak mengajaknya. Hal itu yang membuatku kesal mempunyai adik sepertinya. Mengajaknya bermain bersama teman-temanku hanya membuatku repot karena harus menjaganya. Tapi, di sisi lain, teman-temanku malah menyuruhku untuk mengajaknya saat bermain dengan alasan dia lucu dan menggemaskan. Mereka suka dengan Raffa. Mereka selalu mencubit dan mencium pipinya setiap kali aku dengannya baru sampai di tempat bermain.
Ada banyak hal lain lagi yang membuatku tidak menyukai dan kesal memiliki adik seperti Raffa, salah satunya adalah ketika ia selalu ingin tidur bersamaku. Aku tidak suka itu. Karena, dia selalu mengusik tidurku dengan membangunkanku di tengah malam dan menyuruhku mengambilkan minum untuknya. Siapa sih yang tidak kesal ketika sedang tertidur nyenyak dibangunkan tidurnya? Semuanya pasti kesal, begitu juga denganku.
Tapi, ada saat dimana aku menyesali perbuatan itu. Perbuatan salahku yang sudah kulakukan pada Raffa. Padahal, tidak seharusnya aku begitu. Sebagai kakak, seharusnya aku menyayangi dan menjaganya dengan baik, bukan malah merasa terbebani atas tugas menjaganya yang sudah seharusnya aku lakukan.
Saat itu adalah ketika Raffa jatuh sakit. Aku benar-benar merasa bersalah atas sakit yang menimpa dirinya, walau ia sakit bukan karena aku. Tapi, karena aku sudah jahat sama dia, selalu tidak ingin kehidupanku diusik dengannya, aku jadi merasa bersalah dan juga merasakan sakit sepertinya. Mulai saat itu aku berjanji akan menyayanginya dan menjaganya sebagaimana tugas seorang kakak pada adiknya. Kata aku yang biasanya kupakai saat berbicara padanya aku ganti menjadi kata kakak.
Sekarang, Raffa tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan. Bukan Raffa kecil dulu yang masih ingusan, yang selalu membuatku jijik untuk berdekatan dengannya. Tapi kini, aku selalu ingin dekat-dekat dengannya, bahkan tidak ingin jauh darinya. Karena, aku sangat menyayanginya.
“Oiya, kamu juga kok kurusan? Mana badan seksi kamu yang dulu?” Aku bertanya ketika sadar melihat perubahan pada tubuhnya. Yang dulu terlihat gede tinggi karena tubuhnya cukup berisi, sekarang terlihat kurus. Tingginya mengalahkan tinggi badanku, aku hanya sedadanya saja. Padahal, ketika waktu kecil aku yang lebih tinggi darinya.
“Ah.. kakak! Raffa gak nyaman punya badan kaya gitu, makanya Raffa bikin badan Raffa jadi kaya gini. Ganteng kan Kak?” Jawabnya.
“Bagaimana pun badan kamu, kamu tetap jadi adik kakak yang ganteng Kok.”
“Jadi anak ibu yang ganteng juga dong..” tambah ibu yang membuat kami kembali tertawa. Lalu, kami pun memulai sarapan di pagi hari ini.
Bersambung..

hingga nafasku yang terakhir

Pada malam hari, Rizky memutuskan Dinda lewat SMS dan memberitahu Dinda alasan sebenarnya mengapa Ia memutuskan Dinda. Rizky mengatakan pada Dinda bahwa Ia telah menemukan yang lebih baik dari Dinda. Hati Dinda hancur seketika. Bahkan harapannya untuk bernafas lagi sirna. Seluruh keluarga dan sahabat-sahabatnya ikut sedih melihat keadaan Dinda. Dinda menjadi jarang keluar kamar bahkan tidak keluar rumah. Dinda juga jarang makan dan sering sekali menangis hingga matanya bengkak. Ia juga hampir tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Namun keluarga dan sahabat-sahabatnya selalu berusaha untuk menghibur Dinda.
Dua bulan berlalu, keadaan Dinda jauh lebih baik sekarang. Sekarang sudah ada seseorang yang mampu membuat Dinda tertawa meskipun hanya tertawa kecil. Seseorang yang mau melakukan apa saja untuk membuat Dinda bahagia. Seseorang itu bernama Rendy, sahabat Dinda yang mengerti keadaan Dinda pada dua bulan yang lalu.
“Din, kenapa kamu nggak terima cintaku? Aku kan lebih baik dari dia? Aku janji kalo kamu udah jadi pacarku, aku akan buat kamu bahagia. Aku nggak akan sakiti kamu seperti dia sakiti kamu. Lupain aja, Din. Dia udah sakiti kamu” ucap Rendy saat melihat Dinda melamun memikirkan Rizky.
“Makasih, Ndi. Kamu emang lebih baik dari pada dia. Aku juga percaya kalo kamu bisa buat aku bahagia” jawab Dinda dengan sedikit tersenyum. “Ya udah. Tunggu apa lagi, Din? Cintai aku aja” Rendy menampakkan muka memohon dan matanya yang berbinar menatap mata Dinda dengan tatapan penuh arti.
“Tapi aku nggak bisa terima cintamu, Ndi. Aku masih cinta sama dia. Dia udah jadi bagian dariku. Dan saat dia pergi dia juga membawa separuh aku pergi. Dan nggak mungkin aku bisa terima kamu saat aku masih mencintainya” ucap Dinda dengan muka sedih.
“Kalo gitu aku akan nunggu sampai kamu siap terima aku” senyum Rendy. “Makasih ya kamu udah ada saat aku butuh seseorang di sampingku” Dinda tersenyum. “Apapun akan aku lakukan untuk buat kamu bahagia” senyum Dinda.
Tiba-tiba teman Dinda telepon dan memberitahu bahwa Rendy masuk rumah sakit. Dinda segera pamit pada Rizky tanpa memberi tahu kemanan Dinda pergi dan Dinda segera berangkat ke rumah sakit tempat Rendy dirawat. Sesampainya di rumah sakit, Rizky terbaring di tempat tidur dalam keadaan koma. Dan saat Dinda bertanya ada apa dengan Rizky, dokter mengatakan bahwa Rizky kehilangan banyak darah akibat kecelakaan. Dan darah yang sesuai dengan golongan darah Rizky di rumah sakit, kosong.
“Ambil darahku aja, Dok. Aku mau dia sembuh” ucap Dinda tanpa berpikir dua kali. Namun dokter berkata bahwa Rizky kehilangan banyak darah sehingga dia butuh banyak darah. Dan jika Dinda memberikan darahnya sesuai yang dibutuhkan Rizky, Dinda akan kehabisan darah. Namun Dinda tetap keras kepala, Ia tetap ingin Rizky sembuh meskipun harus mengorbankan nyawanya.
Setelah Dinda mendonorkan darahnya untuk Rizky, Ia tidak dapat bernafas lagi. Darah di tubuhnya sudah habis. Dan Ia rela menyerahkan itu semua untuk Rizky, orang yang tetap Ia cintai meskipun dahulu menyakitinya. Saat Rizky bangun Rizky bertanya siapa orang yang menyelamatkan hidupnya. Rizky juga bilang bahwa dia juga ingin berterima kasih pada orang yang berjasa itu baginya. Saat itu juga sahabat-sahabat Dinda yang sekaligus sahabat Rizky melepaskan tangisannya yang tidak bisa Ia tahan lagi. Rizky kebingungan. “Kenapa? Harusnya kan kalian seneng kalo aku sembuh?”
Jawaban Rizky membuat sahabat-sahabat Dinda menangis lebih deras dan membuat Rendy, teman Rizky sekaligus orang yang mencintai Dinda marah. “Rizky! Cowok apaan kamu! Berani-beraninya kamu sakitin orang yang udah bener-bener tulus cinta sama kamu!”
Rendy pun juga ikut menangis. Rizky masih kebingungan. Seketika itu juga salah satu sahabatnya memberi Rizky surat. “Ki, ini dari Dinda. Ini yang terakhir dia inginkan. Untuk mengorbankan nyawanya cuma buat kamu” Ia pun melanjutkan tangisnya yang tidak bisa Ia tahan lagi. Rizky yang kebingungan, membaca surat itu.
Rizky, maafin aku. Aku tau kalo aku emang nggak sempurna. Aku tau aku juga bukan yang paling cantik dari banyaknya wanita di luar sana. Tapi aku mau kamu tau, cintaku untuk kamu tulus. Aku bener-bener cinta kamu meskipun kamu udah sakitin aku. Maaf aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Semoga kamu menemukan wanita lain yang jauh lebih baik daripada aku. Tenang aja aku udah bahagia kok karena sebagian diriku ada di tubuhmu yang terus mengalir. Jaga dirimu baik-baik ya. Selamat mencari kebahagiaanmu. Aku mencintaimu sampai nafas terakhirku.
Wanita yang dulu pernah kamu cintai,
Dinda
Seketika itu, Rizky menangis. Ia menyesal telah meninggalkan wanita yang benar-benar tulus mencintainya bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk dia. Ia benar-benar menyesal. Waktu berlalu. Sekarang semua sahabat-sahabat Rizky sudah memiliki pasangan hidupnya bahkan Rendy. Dan Rizky, semenjak Ia sadar, Ia tidak mencari wanita lain. Bahkan wanita yang mendekatinya pun, Ia tidak tertarik. Setiap dua minggu sekali, Rizky mengunjungi makam Dinda.
Tahun demi tahun berlalu. Rambut Rizky mulai memutih dan sudah memerlukan tongkat untuk berdiri dan berjalan. Rizky telah berusia tujuh puluh dua tahun. Hari ini Ia berencana untuk mengunjungi Dinda. Sesampainya disana, Ia mengusap lembut batu nisan Dinda dengan tangannya yang renta.
“Din, kamu gimana disana? Aku merindukanmu. Aku juga mencintaimu. Din, saat ajalku tiba, aku ingin kamu menjemputku, ya? Agar kita bisa hidup bahagia bersama disana.”
Seketika itu juga, Rizky mendapat serangan jantung. Ia terjatuh dan terbaring di sebelah makam Dinda. Sebelum Ia menutup mata untuk selamanya, Ia melihat makam Dinda, menaruh tangannya di makam Dinda dan Ia tersenyum sambil meneteskan air mata. Dan akhirnya Ia bahagia di akhir hidupnya karena Ia tahu bahwa Dinda akan menjemputnya dan hidup bersamanya di atas sana.