Rabu, 30 November 2016

kisah radit dan pak toto

Suatu hari tinggalah seorang anak bernama Radit. Ketika umur anak itu menginjaki usianya yang ketujuh tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan. Saat itu Radit masih berada di bangku kelas satu SD yang masih membutuhkan sosok orangtua. Radit adalah anak yang miskin, dia tidak mempunyai keluarga yang bisa menyayanginya kecuali kedua orangtuanya itu. Namun sepertinya Tuhan telah mengirimkan seseorang yang sangat mulia, orang itu bernama pak Toto. Pak Toto adalah tetangga baik Radit dan kedua orangtuanya. Pak Toto yang sehari-harinya hanya memiliki usaha warung memutuskan untuk merawat Radit yang hanya sebatangkara, ia tidak tega melihat anak sekecil Radit sudah terlalu cepat kehilangan kedua orangtuanya. Pak Toto sendiri telah ditinggal oleh istrinya saat melahirkan anak pak Toto yang juga meninggal bersama istrinya saat dilahirkan.
Pada suatu malam, Radit demam tinggi. Pak Toto sangat panik dengan keadaan Radit yang semakin memburuk. Sementara pak Toto sedang tidak mempunyai uang untuk membawa Radit ke rumah sakit. Pak Toto mencoba untuk meminjam uang kepada tetangganya namun tidak ada satu tetangga pun yang mau meminjamkan uang kepada pak Toto. Pak Toto sangat kecewa sekali dengan sifat tetangga-tetangganya yang sangat kikir meskipun pak Toto hanya meminjam uang sedikit saja. Kebetulan pak Toto mempunyai burung yang cukup bagus, dan ia memutuskan untuk menjualnya ke pasar meskipun burung itu adalah burung kesayangannya dan yang menemani dirinya ketika kehilangan istri dan anaknya dahulu. Pak Toto yakin dengan menjual burung kesayangannya, Radit bisa segera dibawa ke rumah sakit. Pagi-pagi buta pak Toto pergi ke pasar dan langsung menuju ke tempat penjualan burung. Pak Toto berhasil menjual burung itu dan segera membawa Radit ke rumah sakit yang kondisinya semakin memburuk.
Ketika di rumah sakit pak Toto terkena marah oleh dokter karena pak Toto terlambat membawa Radit ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Radit terserang penyakit TBC. Pak Toto tidak terlalu mengerti dengan penyakit itu, ia mengira bahwa TBC adalah penyakit yang biasa-biasa saja. Setelah mendengar penjelasan dokter tentang penyakit TBC itu, pak Toto seketika langsung bersedih karena penyakit Radit cukup serius, apalagi Radit harus dirawat selama dua minggu di rumah sakit. Pak Toto semakin bingung dengan masalah biaya yang harus dibayarnya karena ia sudah tidak mempunyai lagi uang untuk membiayai pengobatan Radit. Pak Toto pun meminta pertolongan kepada Tuhan untuk memudahkan cobaan ini.
Karena saking sayangnya pak Toto kepada Radit yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, pak Toto pun rela menggadaikan rumahnya kepada bank agar bisa membayar perawatan Radit di rumah sakit. Alhasil Radit pun bisa kembali sembuh total dan bisa segera pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, pak Toto bingung harus mencari uang kemana untuk membayar hutangnya ke rumah karena jika tidak ia dan Radit akan diusir dari rumah satu-satunya milik pak Toto itu. Pak Toto tidak menyerah sama sekali, ia mempunyai kerabat baiknya yang berjualan daging di pasar dan berniat untuk meminjam uang kepada kerabatnya itu esok hari.
Saat Radit pergi ke sekolah, pak Toto pun pergi ke pasar untuk menemui kerabatnya baiknya itu. Ketika tiba di pasar dan akan segera menuju tempat berjualan kerabat baiknya, pak Toto lebih dahulu dipanggil oleh seseorang dari arah berlawanan. Ternyata orang tersebut adalah penjual burung yang membeli burung kesayangan pak Toto bulan lalu ketika pak Toto sedang membutuhkan uang untuk membawa Radit ke rumah sakit. Pak Toto heran mengapa orang itu memanggilnya. Penjual burung itu menjelaskan kepada pak Toto bahwa burung itu adalah burung yang sangat langka, dan banyak sekali diburu oleh para kolektor burung. Dan minggu lalu ada saudagar kaya yang membeli burung itu dengan harga yang sangat fantastis, tidak diduga sebelumnya. Saudagar kaya itu membeli burung tersebut dengan harga seratus juta rupiah. Penjual burung itu merasa tidak berhak menerima uang itu karena semua itu milik pak Toto. Beruntung sekali pak Toto menjual burungnya kepada seorang penjual yang sangat jujur dan baik hati. Pak Toto tidak menerima uang itu begitu saja karena burung itu sudah bukan miliknya lagi. Mereka berdua pun merasa bingung dengan hal itu.
Tak lama kemudian, mereka pun menemukan solusinya. Agar adil mereka pun memutuskan untuk membagi dua hasil tersebut, yaitu masing-masing dari mereka mendapatkan 50 juta. Karena burung itu bukan milik pak Toto lagi, pak Toto pun memberi uang kepada penjual itu sebesar yang penjual beri saat membeli burung itu dari pak Toto. Alhasil mereka pun merasa senang dan tenang dengan keadilan itu.
Dengan membawa uang yang cukup besar ke rumahnya, pak Toto langsung mengabarkan kabar gembira ini kepada Radit anak angkatnya itu. Dengan uang itu, pak Toto bisa membayar hutangnya kepada bank dan sisanya ia pakai untuk kembali menjalankan usaha warungnya. Berkat kesabaran dan kegigihan pak Toto, kini pak Toto dan Radit bisa hidup lebih bahagia dari sebelumnya. Mereka pun tak pernah lupa untuk bersyukur dan terus memohon kepada Tuhan untuk hidup yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar